Sabtu, 19 Januari 2013

Mitos Dibalik Ruwat Rambut Gimbal



Biasanya di Jakarta, rambut gimbal identik dengan orang yang fanatik dengan musik Reggae. Tidak demikian dengan anak-anak di Dataran Tinggi Dieng, mereka memiliki rambut gimbal asli, bukan buatan. Tentunya hal unik ini dilatar belakangi oleh suatu mitos yang dipercaya warga setempat secara turun-temurun, berikut ini adalah kisahnya.


Rambut gimbal ini hanya tumbuh pada anak-anak tertentu di sekitar Dataran Tinggi Dieng. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, anak yang berambut gimbal adalah keturunan Tumenggung Kolo Dete yang merupakan titipan  Ratu Laut Kidul. Tumenggung Kolo Dete adalah seorang panglima dari Keraton Yogyakarta yang sedang mengasingkan diri di kawasan Dieng. Tumenggung Kolo Dete merupakan pertapa berambut gimbal dari Majapahit, nantinya keturunan dari Tumenggung Kolo Dete akan mempunyai rambut gimbal. Tapi rambut gimbal ini akan diminta kembali oleh Ratu Laut Kidul. 

Mulanya, anak-anak tumbuh dengan rambut normal. Sebelumnya, anak akan sakit panas terlebih dahulu, kemudian setelah sembuh, di kepala anak tersebut akan tumbuh bintik kecil sebesar biji kedelai. Lama kelamaan, bintik itu membesar dan rambutnya akan menggimbal, saat itu pula orang tua sudah tau bahwa anaknya merupakan keturunan Tumenggung Kolo Dete.

Orang tua pastinya menginginkan rambut gimbal anaknya dipotong secepatnya, namun hal ini tidak bisa dipaksakan jika anak tersebut belum mau. Jika anak sudah mau, tentunya harus dengan ritual dan semua persyaratan dari anak tersebut harus dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka rambut gimbal akan tumbuh kembali dan anak akan jatuh sakit.

Permintaan keturunan gimbal dapat bermacam-macam, mulai dari barang-barang sederhana seperti binatang peliharaan seperti ayam atau kambing, bahkan ada yang menginginkan sepeda atau motor. Hal ini terkadang memang menyulitkan orang tua, karena tidak bisa ditawar lagi, oleh karenanya orang tua harus siap betul memenuhi keinginan anaknya.

Sebelum upacara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa di beberapa tempat agar upacara dapat berjalan lancar. Tempat-tempat tersebut adalah Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (gua di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng.

Malam harinya akan ada Upacara Jamasan Pusaka,  yaitu pencucian pusaka yang dibawa saat kirab anak-anak rambut gimbal untuk dicukur. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran, si anak diarak dari rumah sesepuh pemangku adat dan berhenti di dekat Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu, tempat penyucian rambut. Setelah itu, barulah ritual pemotongan rambut dilaksanakan. Potongan rambut gimbal tersebut kemudian dihanyutkan ke Telaga Warna yang menandakan bahwa rambut tersebut dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Ratu Laut Kidul.

Rambut gimbal tersebut haruslah dipotong, konon katanya bila rambut gimbal dibiarkan, masyakat Dieng percaya anak itu beserta keluarganya akan terancam musibah.

0 komentar:

Poskan Komentar