Rabu, 23 Januari 2013

Mengintip Koleksi Museum Tertua di Indonesia



Museum memang identik dengan benda-benda jadul dan kuno, sehingga banyak dari kita yang kurang berminat untuk mengunjunginya. Padahal dengan berkunjung ke museum, kita akan lebih tahu akan berbagai hal khususnya yang berkaitan dengan sejarah masa lampau.  Terlebih jika yang kita kunjungi merupakan musim tertua di Indonesia. Pasti benda-benda koleksinyapun juga banyak yang sudah berusian ratusan tahun. Yah, museum tersebut tak lain adalah Museum Radya Pustaka.
1348041009145236766
Museum Tertua di Indonesia (dok. pribadi)
Museum Radya Pustaka terletak di Jalan Slamet Riyadi (tak jauh dari THR Sriwedari) Surakarta. Museum yang konon merupakan museum tertua di Indonesia tersebut didirikan pada tanggal 20 Oktober 1890 M (tepatnya hari Slasa Kliwon tg. 15 Mulud EHE 1900) atau lebih kurang 122 tahun yang lalu oleh KRA Sosrodiningrat IV. Pada awalnya museum ini berada di salah satu ruang di kediaman Beliau di Kepatihan, namun atas prakarsa Sri Susuhunan Paku Buwana X museum dipindahkan ke Loji Kadipolo (yang menjadi lokasi museum sekarang ini) yang dibeli oleh PB X dari seorang warga negara Belanda bernama Johannes Busselaar.
13480425711221798578
Bagian depan museum (dok. pribadi)
13480426061235480014
Arca dan lumpang batu di bagian depan museum (dok. pribadi)
Beberapa waktu lalu museum ini sempat menjadi buah bibir, manakala arca-arca batu koleksi museum dicuri oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Toh pada akhirnya arca-arca yang dinyatakan hilang tersebut berhasil ditemukan di Belanda dan berhasil dikembalikan seperti sediakala. Ternyata meskipun sudah tua museum ini memiliki banyak keistimewaan ya. Yuk kita lihat ke dalamnya!
13480432661416134571
Pintu utama museum (dok. pribadi)
13480433051565735970
Bagian teras museum (dok. pribadi)
1348043864311019313
Batu Peringatan di teras (dok. pribadi)
Di depan museum terdapat sebuah patung Ronggowarsito (salah satu pujangga beken di tlatah Jawa). Patung ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 11 Nopember 1953. Sebelum mencapai gedung museum, berjejer arca-arca dan lumpang-lumpang batu berbagai ukuran.  Untuk masuk ke dalam gedung museum, dikenakan karcis masuk yang terbilang sangat murah (Rp. 2.500,- per orang). Dibagian teras gedung terdapat arca-arca dan meriam kuno peninggalan jaman Belanda, dan juga batu peringatan yang menempel di dinding.
13480437591567332964
Patung KRA Sosrodiningrat IV (dok. pribadi)
1348043977456742413
Ruang pertama museum (dok. pribadi)
Begitu melewati pintu utama, kita akan langsung melihat patung KRA Sosrodiningrat IV (pendiri museum) di bagian tengah ruangan. Sedangkan dibagian kiri dan kanan terdapat seperangkat meja kursi tua, dengan lemari-lemari kaca yang menyimpan berbagai koleksi wayang. Di belakangnya terdapat lorong dengan ruangan di bagian kiri dan kanannya. Di lorong sini terdapat beberapa koleksi senjata tajam seperti keris dan tombak dan juga berbagai macam sabit.
13480443932021575894
Koleksi sejam (dok. pribadi)
13480444352053235775
Koleksi keris (dok. pribadi)
Di bagian timur lorong digunakan untuk menyimpan koleksi gerabah dan piala porselen yang merupakan hadiah dari Napoleon Bonaparte. Sedangkan di sisi kanan (bagian barat) dipergunakan untuk menyimpan koleksi berbahan perunggu seperti berbagai gong, arca-arca perunggu, maupun sebuah lonceng perunggu.
13480449431766807263
Koleksi Gerabah (dok. pribadi)
1348044973737669452
Koleksi perunggu (dok. pribadi)
1348045008470033081
Awas, lonceng beracun (dok. pribadi)
Di bagian berikutnya, di sisi kiri (Timur) terdapat sebuah perpustakaan kecil. Meskipun kecil, namun perpustakaan ini mempunyai ribuan koleksi di dalamnya. Dan mayoritas koleksinya merupakan naskah buku kuno yang sudah berusia ratusan tahun.  Salah satunya berupa “Serat Centhini” asli yang bertuliskan huruf Jawa. Namun bagi anda yang tidak mengerti huruf Jawa, tak perlu kuatir karena di tempat ini juga terdapatNaskah Carik Tedhakan (Turunan). Namun meskipun begitu, tetep saja masih susah dimengerti, karena masih berupa tembang-tembang Jawa seperti Dhandanggulo, Pangkur, Sinom, Mijil, Asmorodono dan lain sebagainya. Sedangkan di ruang yang bagian kanan merupakan tempat koleksi relung rambut Budha yang terbuat dari perunggu.
1348045644580777450
Perpustakaan yang kaya naskah kuno (dok. pribadi)
1348045690134051590
Salinan naskah kuno berhuruf Jawa (dok. pribadi)
134804573255154275
Serat Centhini = Kamasutra Jawa? (dok. pribadi)
Memasuki ruang berikutnya, kita akan melihat seperangkat gamelan Jawa lengkap dengan gelaran wayang kulitnya. Inilah ruangan terbesar di museum ini. Di bagian tepi ruangan terdapat koleksi benda-benda kuno seperti alat pengangkut sesaji keraton Surakarta, sarang burung dengan ornamen naga, mesin ketik berhuruf Jawa, dan masih banyak lagi.
13480460031018124843
Seperangkat gamelan Jawa (dok. pribadi)
1348046069827697083
Sangkar burung dgn ornamen naga (dok. pribadi)
1348046106320757926
Mesin Ketik berhuruf Jawa (dok. pribadi)
Di bagian kanan (Barat) terdapat sebuah ruangan yang berbau khas harum dupa. Yah disinilah tersimpan koleksi Kyai Rajamala yang masih dikeramatkan karena dipercaya masih memiliki linuwih. Rajamala berupa kepala raksasa yang digunakan untuk hiasan kapal kerajaan. Sedang di sisi lain digunakan untuk ruang memorial KG Panembahan Hadiwijaya.
13480463701682112310
Kyai Rajamala yang dikeramatkan (dok. pribadi)
13480464111723308519
Ruang Memorial (dok. pribadi)
Di belakang ruang ini terdapat koleksi yang tak kalah menarik. Yakni berupa koleksi berbagai uang kuno dari berbagai negara, dan berbagai miniatur seperti miniatur Sanggabuana, Makam raja-raja Mataram di Imogiri, dan juga Masjid Agung Surakarta.
13480465881198418368
Miniatur Sanggabuana (dok. pribadi)
13480466231033865251
Miniatur Masjid Agung Surakarta (dok. pribadi)
13480470711996647280
Koleksi uang kuno (dok. pribadi)
Tak jauh dari tempat ini merupakan ruangan terakhir bagian museum. Namun di sinilah terdapat koleksi benda-benda berharga. Karena di ruangan terakhir sinilah kelima arca yang sempat hilang itu berada. Kelima arca tersebut arca Agustya Siwa Mahaguru, Durga Mahesa Suramadini, Mahakala, Durga Mahesa Suramadini II dan Siwa. Arca-arca tersebut disusun berjejer keliling ruangan, dengan lingga di bagian tengahnya.
1348047223518099728
Ruangan terakhir yang banyak arca (dok. pribadi)
Meski hanya merogoh kocek sebesar Rp. 2.500,- ternyata begitu banyak benda-benda dan sastra kuno yang bisa kita saksikan di museum ini.  Jadi siapa bilang berwisata itu harus menelan biaya yang “mahal”. Selain itu dengan mengunjungi museum berarti kita sudah menghargai sejarah dan kebudayaan kita. Bukankah ada ungkapan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarahnya“?


http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/09/19/mengintip-koleksi-museum-tertua-di-indonesia-494753.html

0 komentar:

Poskan Komentar