Rabu, 23 Januari 2013

GEBYOK DARI SISI ETIK DAN ESTETIK


Leo Tolstoy mengatakan bahwa “Seni itu bukan kerajinan, melainkan perwujudan perasaan dan pengalaman seniman. Sedangkan kerajinan perulangan kemahiran yang turun temurun. Kerajinan tidak mencerminkan perasaan seniman, melainkan mencerminkan rajin- sregrep- dari pembuatnya tersebut. Tapi coba kita lihat gebyok. Gebyok bukan hanya kerajinan melainkan mengandung makna. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, pemimpin Jepara pada abad ke 16, gebyok telah diciptakan dan menjadi masterpice. Gebyok ini mencerminkan pemikiran dan perasaan estetik maupun etik. Gebyok bukan semata-mata bentuk yang tidak ada artinya. Gebyok menunjuk pada kebijakan manusia.
480549_foto067
Gebyok yang sudah berkembang pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah rumah kayu yang dipenuhi oleh kerajinan ukir pada kayunya. Gebyok diciptakan untuk meraih tujan praktis, etis, dan estetik. Sebagai kebutuhan praktis, gebyok adalah sebagai rumah yang layak. Walaupun penuh ukiran, tetapi tidak meninggalkan kekuatan sebagai penyangga rumah juga. Dan rumah ini bukan rumah biasa. Melainkan rumah yang terhormat. Betapa tidak, untuk menciptakan gebyok diperlukan kayu pilihan serta tenaga ahli yang cukup serta waktu yang cukup.
Gebyok juga punya nilai etis. Gebyok memberi pesan spiritual bagi penghuninya. Ukiran dalam gebyok (SP Gustami, 2008) menceritakan tujuan hidup manusia -sangkan paraning dumadi-: keharmonisan, kesejahteraan dan kedamaian. Keharmonisan desain gebyok memperlihatkan pentingnya keharmonisan hidup dengan alam. Gebyok juga tanda tentang jalan ke sorga, naik turunnya roh nenek moyang. Swastika adalah simbol harmoni dan keseimbangan hidup. Bung bambu adalah simbol regenerasi, kesuburan, dan keberlanjutan hidup. Kala makara adalah simbol cinta antara ibu dan anak.
Kini gebyok menjadi warisan budaya Indonesia yang tidak lekang oleh jaman. Gebyok penuh metafor dan pesan tentang kebijakan hidup tentang kesejahteraan hidup. Sejahtera bukan di dunia saja melainkan di akhirat..
Gebyok ini pernah menjadi simbol kekayaan di kudus. Gebyok banyak dipakai di rumah Kudus sebelum tahun 1810 M, menjadi simbol kejayaan dan kekayaan pemiliknya. Lingkungan Kudus Kulon diciptakan sebagai tempat khusus rumah tradisional kudus.
Tumbuhnya kesadaran dan kebanggaan akan warisan budaya daerah, ikut serta menciptakan kegairahan dalam memelihara dan mengembangkan budaya gebyok. Kini gebyok banyak disukai di seluruh Indonesia bahkan di dunia.
Sebelumnya, seni ukir kudus didominasi oleh bunga teratai. Hal ini bisa dimengerti karena pada saat itu, pada zaman dahulu, agama mayoritas warga Kudus adalah agama Hindu. Sunan Kudus, penyebar Islam tanah Jawa, memperkenalkan ukiran dari bunga melati. Bunga melati berukuran kecil, putih dan wangi. Arti dari melati sebagai perlambang bahwa penganut agama Islam pada waktu itu berjumlah kecil, namun bisa memberikan wewangian bagi sekeliling. Melati dalam gebyok dibikin menyatu sama lain, dan juga menyatu dengan komponen yang lain. Makna simbolik dari  kedekatan ini adalah umat islam dan umat dari beragama lain sebaiknya bersatu membangun kedamaian, walaupun berbeda agama dan pendapat.
Ukir kayu pada gebyok kayu membutuhkan kemahiran tingkat tinggi. Sampai sekarang, kemahiran ini tidak pudar. Pengrajin gebyok banyak ditemukan di Jepara dan Kudus. Darimanakah mereka membangun kemahiran ukir ini?
Asal Mula Kemahiran Ukir
Kudus sekarang lebih dikenal sebagai kota rokok, sedangkan Jepara sebai kota ukir.  Sebelum Jepara terkenal sebagai kota ukir, kota Kudus terlebih dahulu terkenal sebagai pusat ukir. Ukiran diperkenalkan kepada masyarakat Kudus saat imigran terkenal dari kota Yunan – China, The Ling Sing, datang di abad ke 15. Dia datang ke Kudus tidak hanya menyebarkan agama Islam  tetapi juga mengajarkan seni ukir kayu. Ukirannya dikenal dengan sebutan, Sung Ging, yang terkenal kehalusannya serta adikarya yang menakjubkan.
The Ling Sing kemudian dikenal sebagai mubaligh (penyebar Islam) yang dikenal dengan nama Kiai Telingsing.  Nama ini kini diabadikan menjadi nama jalan besar di Kota Kudus. Di Kudus juga terdapat kampung yang bernama Sunggingan, diperkirakan dari sebutan Kiai Telingsing.
1231992039_Gebyok Mojopait
Dari abad ke 16 sampai abad 18, pengrajin ukir kayu Kudus menerima berbagai pesanan untuk membangun rumah kayu. Bahan utamanya kayu jati dengan kualitas terbaik yang disupplai dari hutan  Blora, Tuban, dan, Tuban dan Bojonegoro. Pada abad ke 19, jati dengan kualitas terbaik semakin jarang, sehingga menyurutkan minat mereka untuk mengembangkan keahliannya.
Kemahiran ukir yang masih bertahan hingga sekarang berada di Jepara, kota tetangga Kudus. Kemahiran ukir warga Jepara sangat terkenal dan bertahan hingga sekarang. Sentra pembuat gebyok pun terletak di kota Jepara, yang berdekatan dengan kabupaten Kudus.
Tidak berarti Jepara melanjutkan tradisi Kudus.  Jepara juga punya tradisi ukir yang tua. Kalau guru ukir Kudus adalah Kiai The Ling Sing, guru ukir warga Jepara adalah Tji Wie Gwan atau Sun Ging Badar Duwung.  Karya Tji Wie Gwan ini adalah ornamen masjid Mantingan, yang dibangun pada tahun 1559.  Kemudian Sunging Badar Duwung ini mengajarkan kerajinan ukir pada kayu pada warga Jepara, dan kemahiran itu dipertahankan secara turun temurun, sampai sekarang.
http://indonesian-furnitures.com/2009/11/05/gebyok-is-not-only-craft-but-also-art/

0 komentar:

Posting Komentar