Rabu, 31 Oktober 2012

Fakta Unik Tentang Papua

            


Tidak banyak yang tahu,bahwa sebenarnya kata "PAPUA" dan "IRIAN" tidak disukai oleh penduduk aslinya karena kedua kata tersebut mempunyai arti yang kurang bagus. Mereka lebih suka disebut dengan sebutan "NUU WAAR".

2. Kata "PAPUA" memiliki arti yang kurang baik dan dikembangkan oleh bangsa Portugis dan Belanda pada masa kekuasaanya di Papua untuk memecah belah rakyat Papua.

3. Di Papua terdapat 268 bahasa daerah selain Bahasa Indonesia yang digunakan dan dikembangkan oleh berbagai suku di sana.

4. Bagian utara dan timur Papua merupakan daerah rawan gempa, sedangkan di bagian selatan termasuk daerah yang stabil.

5. Terdapat lebih dari 255 (52 %) suku asli di wilayah Papua. Sedangkan 48 % nya adalah Non-Papua yang didominasi oleh suku dari Jawa dan dari Sulawesi.

6. Dahulu agama Islam lebih dahulu masuk ke Papua pada 1214 M oleh Iskandar Syah dari Samudera Pasai. Tetapi masyarakat asli Papua saat ini mayoritas memeluk agama Kristen yang mulai masuk pada 16 Maret 1930.

7. Di Papua terdapat Puncak Jaya yang merupakan puncak gunung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian diatas 5.000 meter. Puncak ini unik karena bersalju abadi padahal terletak di garis khatulistiwa.

8. Papua memiliki beberapa fauna khas diantaranya Cendrawasih, Kanguru, Kus-kus, dan Kasuari yang endemik di wilayah tersebut.

9. Di Papua terdapat OPM yang merupakan gerakan separatis yang diorganisasi oleh kelompok yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negaranya sendiri.

10. Di Papua terdapat tumbuhan obat yang disebut "SARANG SEMUT" dan "BUAH MERAH" yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, bahkan ada yang mengatakan bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS.

11. Salah satu senjata tradisional suku Papua adalah pisau belati yang terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan hulunya dihiasi bulu dari kasuari pula.

12. Papua sebenarnya memiliki potensi alam yang luar biasa, contohnya adalah tambang tembaga dan emas Freeport, dan potensi wisata Raja Ampat yang katanya merupakan wisata laut terbaik kedua di Indonesia setelah Bali.

13. Di Papua terdapat tradisi MOP, yaitu lelucon yang diturunkan oleh bangsa Belanda. Tradisi ini diadopsi dari perayaan tahunan orang-orang di Eropa, April MOP.

14. Baru-baru ini kabarnya telah ditemukan sebuah gua di Pegunungan Lina, Manokwari yang disebut-sebut sebagai gua terdalam di dunia dengan kedalaman 2.000 m oleh tim ekspedisi speologi Prancis.

15. Situs purbakala tertua yang ditemukan di Papua diperkirakan telah berusia prasejarah (40.000-50.000 tahun SM).


http://didydodyhart.mywapblog.com/fakta-unik-menarik-tentang-papua.xhtml


Dikuatkan Sumber : http://cloud.papua.go.id/id/pariwisata/artikel/Pages/Wisata-Sejarah-Situs-Arkeologi-di-Papua-Dapat-Menjadi-Wisata-Sejarah.aspx
Papua memiliki kekayaan sejarah perkembangan aktivitas manusia mulai dari masa pra sejarah, Perang Dunia II dan Perang Pasifik. Hal ini terkait dengan ditemukan berbagai fosil dan artefak, sebagai sebuah situs arkeologi yang potensial Situs purbakala tertua yang ditemukan di Papua berusia pra sejarah, yaitu 40.000 - 30.000 tahun sebelum masehi. Situs tersebut berlokasi di Kabupaten Biak , berupa gua-gua yang pada dindingnya dijumpai lukisan-lukisan gua dan fosil-fosil cangkang kerang.

Selain di Biak, penemuan dari jaman megalitikum terdapat di Situs Tutari, Kabupaten Jayapura. Di tempat ini ditemukan bongkahan batu berlukis berbentuk binatang-binatang melata.

Arkeologi dari jaman kolonial juga banyak ditemukan di beberapa daerah di Papua karena wilayah ini pernah diduduki bangsa Belanda sejak tahun 1900-an hingga Perang Pasifik tahun 1940-an.

Situs jaman kolonial ini misalnya Situs Ifar Gunung, Situs Asei Pulau dan Situs Hirekombe di Kabupaten Jayapura.

Situs lainnya adalah adalah yang berkaitan dengan sejarah masuknya agama Islam ke Papua, dengan ditemukannya Situs Makam Islam di Lapintal, Kabupaten Raja Ampat, Situs Islam di Pulau Nusmawan, Kabupaten Teluk Bintuni.

Dengan potensi arkeologi yang demikian besar, Balai Arkeologi Jayapura membagi wilayah kerjanya menjadi enam, yaitu daerah Kepala Burung, Teluk Cenderawasih, Teluk Bintuni, Pantai Selatan dan sekitarnya, Pantai Utara dan sekitarnya serta Pegunungan Tengah.

Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kegiatan penelitian dan pengembangan Balai Arkeologi Jayapura telah menemukan 89 situs yang sangat berharga, baik dari segi pendidikan dan budaya maupun wisata sejarah.

Toraja's Elaborate Funeral Ceremonies

                                  Toraja's Elaborate Funeral Ceremonies






When approximate amounts of funds have been pledged by members of the family of the deceased Don or patriarch to ascertain that a funeral ceremony can be held, a meeting is gathered in the village attended by all family members, traditional aluk leaders and village heads to discuss details of the funeral ceremony, funds required, the minimum number of buffaloes to be slaughtered, -  for guests may run into the thousands, - and most importantly, the actual date of the funeral.
All know that funerals may take place only after the harvest and before the first sowing of the rice seeds, which normally falls between July and September.     
Toraja Funeral Ceremonies are not only sad events, but are occasions for entire families to gather from around the globe, and for villagers to participate in communal events, renewing relationships and reconfirming beliefs and traditions in the way of the ancestors.
In preparation of the Funeral Ceremony, villagers and family members build a tower on the designated ceremonial site where the meat of slaughtered cattle will be distributed during the event. In the centre of the ground is planted a stake where the sacrificial buffalo will be tied to and stabbed. Around the large site are built temporary shelters forming balconies where people can watch proceedings below.
The next day the coffin of the deceased is moved down from the Tongkonan to the floor of the rice barn where decorations are made around the bier.
Before the actual public ceremony begins, a priest or pastor will hold a Catholic mass or Protestant service for the family.
Then the public funeral starts. The day before, guests from all over Toraja, and relatives and descendents of the deceased arrive from many parts of Indonesia or even from overseas, to gather and attend this most important ceremony.
The first official day is dedicated to the seemingly endless formal procession called Ma’passa Tedong where persons, families, groups, bring with them their gifts and contributions ranging from water buffaloes to pigs, rice or alcoholic drinks. All gifts are meticulously registered and announced while donors will show off their gifts by walking around the ceremonial area. Everyone watches who gives what, so that the occasion is not only to confirm one’s status and wealth in society, but also to express former debts repaid, or even new ones made.  In the evening, the coffin is brought by hundreds of people to the ceremonial site - called Rante and placed on the high house. After the procession, start the exciting and rowdy buffalo fights, where a lot of betting goes on.  
The next day the committee tallies all gifts, and the family then decides how many buffaloes and pigs will be slaughtered and distributed to guests, and how many given to charity to neighbouring poor villages. Most expensive are the prized pied buffaloes.
The following day comes the actual slaughtering of the cattle for their meat to be distributed for meals to the thousands  attending the ceremony that lasts for over  a week. The slaughter of the sacrificial buffalo is done in public. This happens very fast and sure, where the buffalo is stabbed directly into its heart and collapses immediately. The buffalo is then hacked and its meat distributed from here, where each part is allocated to a specified person or group whose name is called out, with prime cuts given to the most important in status.
Foreigners and tourists may also be given a cut, which gives this ceremony a universal status drawing prestigious people from afar.
Finally on the actual day of burial, called :  Ma’Kaburu’  will  the coffin be carried in ceremonial procession by the thousands of villagers to the grave site passing green rice fields to its last resting place in  the caves or the crypts high up in the rock faces of the hanging graves.  (Source:” Periplus: Sulawesi, The Celebes” and other information)

Bali Cremation Ceremony “NGABEN”






Hindu funerals in Bali are intensely suggestive ceremonies of great cultural and religious significance. Funerals are centred on cremation of the body requiring a complex apparatus and characterized by a large following known as ngaben or pelebon. This practice is considered essential if the 5 elements making up the microcosm of the human body are to be returned to their original residence, the universe’s macrocosm. The five elements, Panca Maha Bhuta, are the earth (pertiwi), water (apah), fire (teja), air (bayu), and ether (akasa). Since the primordial dimension can only be attained through water and fire, the ashes are dispersed in the water of the sea or if the distance is too great, in a river. The funeral ceremony is generally led by a priest and punctuated by a lavish offering of gifts. For the occasion, a large bullock-shaped wooden structure is built and then entirely covered with white drapes if the deceased belongs to a priestly caste–in black.
There are ceremonies for every stage of Balinese life but often the last ceremony–cremation–is the biggest. A Balinese cremation can be an amazing, spectacular, colorful, noisy and exciting event. In fact it often takes so long to organize a cremation that years have passed since the death. During that time the body is temporarily buried. Of course an auspicious day must be chosen for the cremation and since a big cremation can be very expensive business many less wealthy people may take the opportunity of joining in at a larger cremation and sending their own dead on their way at the same time. Brahmans, however, must be cremated immediately. Apart from being yet another occasion for Balinese noise and confusion it’s a fine opportunity to observe the incredible energy the Balinese put into creating real works of art which are totally ephemeral. A lot more than a body gets burnt at the cremation. The body is carried from the burial ground (or from the deceased’s home if it’s and ‘immediate’ cremation) to the cremation ground in a high, multi-tiered tower made of bamboo, paper, string, tinsel, silk, cloth, mirrors, flowers and anything else bright and colourful you can think of. The tower is carried on the shoulders of a group of men, the size of the group depending on the importance of the deceased and hence the size of the tower. The funeral of a former rajah of high priest may require hundreds of men to tote the tower.
A long the way to the cremation ground certain precautions must be taken to ensure that the deceased’s spirit does not find its way back home. Loose spirits around the house can be a real nuisance. To ensure this doesn’t happen requires getting the spirits confused as to their whereabouts, which you do by shaking the tower, running it around in circles, spinning it around, throwing water at it, generally making the trip to the cremation ground anything but a stately funeral crawl.

Budaya bugis



Tidak seperti bahagian Asia Tenggara yang lain, Bugis tidak banyak menerima pengaruh India di dalam kebudayaan mereka. Satu-satunya pengaruh India yang jelas ialah tulisan Lontara yang berdasarkan skrip Brahmi,yang berkembang melalui arus perdagangan. Kekurangan pengaruh India, tidak seperti di Jawa dan Sumatra, mungkin disebabkan oleh komuniti awal ketika itu kuat menentang asimilasi budaya luar.

Selasa, 30 Oktober 2012

Perkembangan Tari Di indonesia



Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Terdapat lebih dari 700 suku bangsa di Indonesia: dapat terlihat dari akar budaya bangsa Austronesia dan Melanesia, dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri tetangga di Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri; Di Indonesia terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Tradisi kuno tarian dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan sekolah seni tari yang dilindungi oleh pihak keraton atau akademi seni yang dijalankan pemerintah.[1]

Kidung Penjaga di Keheningan Malam


http://www2.nau.edu)

KIDUNG Rumeksa Ing Wengi“. Saya terjemahkan bebas menjadi Kidung Penjaga di Keheningan Malam. Ia merupakan tembang, gita, lagu atau nyanyian yang sangat popoler di pedesaan-pedesaan Jawa. Konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa.
Tatkala SD di Klaten Jawa Tengah awal-awal 1980-an, saya acap mendengar “ura-ura” (senandung) lirih dan penuh penghayatan ini dari bibir tipis Pakde Minto pada keheningan malam yang tengah “leyeh-leyeh” (berbaring rileks) di bale bambu yang sudah agak reyot. Di lain waktu, kidung ini disenandungkannya sembari membuai mesra putra bungsunya yang susah tidur dan senahttp://www2.nau.edu) “KIDUNG Rumeksa Ing Wengi”. Saya terjemahkan bebas menjadi Kidung Penjaga di Keheningan Malam. Ia merupakan tembang, gita, lagu atau nyanyian yang sangat popoler di pedesaan-pedesaan Jawa. Konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa.Tatkala SD di Klaten Jawa Tengah awal-awal 1980-an, saya acap mendengar “ura-ura” (senandung) lirih dan penuh penghayatan ini dari bibir tipis Pakde Minto pada keheningan malam yang tengah “leyeh-leyeh” (berbaring rileks) di bale bambu yang sudah agak reyot. Di lain waktu, kidung ini disenandungkannya sembari membuai mesra putra bungsunya yang susah tidur dan senantiasa menangis –sebagai pengantar ke peraduan. Apabila mendengar kidung dilantunkan, aliran darah serasa terkesiap. Dan memang, pada kenyataannya kidung ini bukan sembarang kidung. Orang Jawa meyakini, dengan menyanyikannya, maka pelantun dan keluarganya akan terhindar dari malapetaka. Keseluruhan bait dari “Kidung Rumeksa Ing Wengi” berjumlah sembilan. Namun yang terkenal dan acapkali disenandungkan yakni bait pertamanya. Bait pertama sangat dikenal dan menjadi semacam “kidung wingit” karena diyakini membawa tuah seperti mantra sakti penolak bala. Jika kita cermati makna dari sembilan bait kidung ini, kandungan isinya merupakan medium dakwah dalam bentuk tembang yang sangat luar biasa. Ini menandakan bahwa para penyebar agama Islam di masa-masa awal perkembangannya di pulau Jawa mampu memahami, menjiwai dan sekaligus menjawab kebutuhan spiritualitas masyarakat. Semangat yang terkandung dari kidung ini untuk saling ingat-mengingatkan manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Gusti Allah SWT. Dengan mempercayai bahwa Allah SWT sangat dekat dengan makhluk ciptaan-Nya, maka apapun rintangan dan godaan dari luar yang menghadang akan dengan mudah diatasi. Termasuk rintangan dan godaan yang kadangkala di luar kemampuan akal manusia. *** Sekarang mari kita resapi, dua buah bait gita ini dalam langgam “Dhandhanggula”. Ia seolah-olah menjadi tembang klasiknya Orang Jawa, yang abadi sepanjang masa. Hingga kini, orang-orang tua di pedesaan masih banyak yang hapal dan mengamalkan lirik tembang terkemuka ini. Kidung Rumeksa Ing Wengi (1) —————————- Ana kidung rumekso ing wengi Teguh hayu luputa ing lara Luputa bilahi kabeh Jim setan datan purun Paneluhan tan ana wani Miwah panggawe ala Gunaning wong luput Geni atemahan tirta Maling adoh tan ana ngarah ing mami Guna duduk pan sirno Terjemahannya dalam bahasa Indonesia: Kidung Penjaga di Keheningan Malam (1) —————————- Ada kidung penjaga di keheningan malam Kukuh selamat terbebas dari penyakit Terbebas dari segala malapetaka Jin dan setan jahat pun tidak berkenan Segala jenis sihir pun tidak ada yang berani Apalagi perbuatan jahat Ilmu orang yang bersalah Api dan juga air Pencuri pun jauh tak ada yang menuju padaku Guna-guna sakti pun sirna *** Sementara itu, saya pilihkan bait berikutnya yang dipercaya dapat mempercepat perjodohan. Bagi orang Jawa, mengamalkan lirik ini, terutama bagi perempuan tua yang kesulitan mendapatkan suami diyakini dapat menemukan jodohnya. Disamping itu, bait ini juga dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Betul atau salah, dan betul-betul berkasiat atau tidak, saya serahkan pada kemantapan masing-masing pribadi. Kidung Rumeksa Ing Wengi (2) —————————- Wiji sawiji mulane dadi Apan pencar saisining jagad Kasembadan dening zate Kang maca kang angrungu Kang anurat kang anyimpeni Dadi ayuning badan Kinarya sesembur Yen winacakna ing toya Kinarya dus rara gelis laki Wong edan nuli waras Terjemahannya dalam bahasa Indonesia: Kidung Penjaga di Keheningan Malam (2) —————————- Kejadian berasal dari biji yang sama kemudian berpencar ke seluruh dunia Terimbas oleh zat-Nya Yang membaca dan mendengarkan Yang menyalin dan menyimpannya Menjadi keselamatan badan Sebagai sarana pengusir Apabila diterapkan dalam air Dipakai mandi perawan agar cepat bersuami Orang gila pun segera sembuh ***** Dwiki Setiyawan, anggota komunitas Blogger Kompasiana. http://dwikisetiyawan.wordpress.com http://www2.nau.edu) Misteri Malam (kredit foto: http://www2.nau.edu) tiasa menangis –sebagai pengantar ke peraduan.
Apabila mendengar kidung dilantunkan, aliran darah serasa terkesiap. Dan memang, pada kenyataannya kidung ini bukan sembarang kidung. Orang Jawa meyakini, dengan menyanyikannya, maka pelantun dan keluarganya akan terhindar dari malapetaka.
Keseluruhan bait dari “Kidung Rumeksa Ing Wengi” berjumlah sembilan. Namun yang terkenal dan acapkali disenandungkan yakni bait pertamanya. Bait pertama sangat dikenal dan menjadi semacam “kidung wingit” karena diyakini membawa tuah seperti mantra sakti penolak bala.
Jika kita cermati makna dari sembilan bait kidung ini, kandungan isinya merupakan medium dakwah dalam bentuk tembang yang sangat luar biasa. Ini menandakan bahwa para penyebar agama Islam di masa-masa awal perkembangannya di pulau Jawa mampu memahami, menjiwai dan sekaligus menjawab kebutuhan spiritualitas masyarakat.
Semangat yang terkandung dari kidung ini untuk saling ingat-mengingatkan manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Gusti Allah SWT. Dengan mempercayai bahwa Allah SWT sangat dekat dengan makhluk ciptaan-Nya, maka apapun rintangan dan godaan dari luar yang menghadang akan dengan mudah diatasi. Termasuk rintangan dan godaan yang kadangkala di luar kemampuan akal manusia.
***
Sekarang mari kita resapi, dua buah bait gita ini dalam langgam “Dhandhanggula“. Ia seolah-olah menjadi tembang klasiknya Orang Jawa, yang abadi sepanjang masa. Hingga kini, orang-orang tua di pedesaan masih banyak yang hapal dan mengamalkan lirik tembang terkemuka ini.

Asal Usul Musik Keroncong



Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan.
Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya[1]. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.
Alat-alat musik
Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.
Pem-”pribumi”-an keroncong menjadikannya seni campuran, dengan alat-alat musik seperti :
  • Sitar India
  • Rebab
  • Suling bambu
  • Gendang, kenong, dan saron sebagai satu set gamelan
  • Gong.
Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup :
  • Ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong – crong sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di Hawai, dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong).
  • Ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F).
  • Gitar akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi).
  • Biola (menggantikan Rebab).
  • Flut (mengantikan Suling Bambu).
  • Selo, betot menggantikan kendang.
  • Kontrabas (menggantikan Gong)[2]
Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan bas. Gitar yang kontrapuntis dan selo yang ritmis mengatur peralihan akord. Biola berfungsi sebagai penuntun melodi, sekaligus hiasan/ornamen bawah. Flut mengisi hiasan atas, yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong.
Bentuk keroncong yang dicampur dengan musik populer sekarang menggunakan organ tunggal serta synthesizer untuk mengiringi lagu keroncong (di pentas pesta organ tunggal yang serba bisa main keroncong, dangdut, rock, polka, mars).
Jenis keroncong
Musik keroncong lebih condong pada progresi akord dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta adaptasi.
Perkembangan keroncong masa kini
Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kedatangan orang Portugis di Indonesia (1522) dan pemukiman para budak di daerah Kampung Tugu tahun 1661, dan ini merupakan masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880), hampir dua abad lamanya, namun belum memperlihatkan identitas keroncong yang sebenarnya dengan suara crong-crong-crong, sehingga boleh dikatakan musik keroncong belum lahir tahun 1661-1880.
Dan akhirnya musik keroncong mengalami masa evolusi pendek terakhir sejak tahun 1880 hingga kini, dengan tiga tahap perkembangan terakhir. Tonggak awal adalah pada tahun 1879 [3], di saat penemuan ukulele di Hawai yang segera menjadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: crong-crong-crong).
Ketiga tahap tersebut adalah :
A. Masa stambul (1880-1920)
  • Stambul I
  • Stambul II
  • Stambul III
B.Masa keroncong abadi (1920-1960)
  • Langgam Keroncong
  • Stambul Keroncong
  • Kroncong Asli
  • Kadensa Keroncong
  • Gambang Keromong
Gambang Keromong adalah salah satu gaya keroncong yang dikembangkan oleh Etnis Tionghoa (gambang adalah alat musik bilah kayu seperti marimba, sedangkan keromong adalah istilah lain dari kempul) yang dikembangkan tahun sekitar 1949 di Jakarta (tanjidor), namun kemudian berkembang di Semarang (ingat lagu Gambang Semarang – Oey Yok Siang).
Sebenarnya Gambang Keromong yang lahir di Masa Keroncong Abadi 1920-1960 adalah cikal bakal Campursari yang lahir pada Masa Keroncong Modern.
C. Masa keroncong modern (1960-kini)
  • Langgam Jawa
  • Keroncong Beat
  • Campur Sari
  • Keroncong Koes Plus
  • Keroncong Dangdut ( Cong – Dut )
Tokoh keroncong
Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah Jepang karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki “Buaya Keroncong” oleh insan keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong.
Gesang menyebut irama keroncong pada MASA STAMBUL (1880-1920), yang berkembang di Jakarta (Tugu , Kemayoran, dan Gambir) sebagai Keroncong Cepat; sedangkan setelah ousat perkembangan pindah ke Solo (MASA KERONCONG ABADI: 1920-1960) iramanya menjadi lebih lambat.
Di sisi lain nama Anjar Any (Solo, pencipta Langgam Jawa lebih dari 2000 lagu yang meninggal tahun 2008) juga mempunyai andil dalam keroncong untuk Langgam Jawa beserta Waljinah (Solo), sedangkan R. Pirngadie (Jakarta) untuk Keroncong Beat, Manthous (Gunung Kidul, Yogyakarta) untuk Campursari dan Koes Plus (Solo/Jakarta) untuk Keroncong Rock, serta Didi Kempot (Ngawi) untuk Congdut.

Karapan Sapi: Madura Punya Tradisi

pasuruan

Karapan Sapi adalah acara khas masyarakat Madura yang di gelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September, dan akan di lombakan lagi pada final di akhir bulan September atau October. Pada Karapan Sapi ini, terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang di paksa untuk berlari sekencang mungkin sampai garis finis. Joki tersebut berdiri menarik semacam kereta kayu dan mengendalikan gerak lari sapi. Panjang lintasan pacu kurang lebih 100 meter dan berlangsung dalam kurun waktu 10 detik sampai 1 menit.

Selain di perlombakan, karapan sapi juga merupakan ajang pesta rakyat dan tradisi yang prestis dan bisa mengangkat status sosial seseorang. Bagi mereka yang ingin mengikuti perlombaan karapan sapi, harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melatih dan merawat sapi-sapi yang akan bertanding sebelumnya. Untuk membentuk tubuh sepasang sapi yang akan ikut karapan agar sehat dan kuat, dibutuhkan biaya hingga Rp4 juta per pasang sapi untuk makanan maupun pemeliharaan lainnya. Sapi karapan diberikan aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari, terlebih-lebih menjelang diadu di arena karapan.

Bagi masyarakat Madura, Kerapan dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Untuk saat ini, selain sebagai ajang yang membanggakan, kerapan sapi juga memiliki peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi, yaitu sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan, peran magis religious; misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu. Terdapat seorang 'dukun' yang akan 'mengusahakan'nya. Pada setiap tim pasti memiliki seorang 'dukun' sebagai tim ahli untuk memenangkan perlombaan.

Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang


http://www.eastjava.com/tourism/pasuruan/ina/bull-race.html

Jumat, 26 Oktober 2012

Tari Piring


Sejarah Tari Piring


Pada awalnya, Tari Piring ini merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah. Ritual dilakukan dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang kemudian diletakkan di dalam piring sembari melangkah dengan gerakan yang dinamis.
Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tradisi Tari Piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. Akan tetapi, tari tersebut digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.

Di Malaysia , tarian piring dipersembahkan ketika majelis perkawinan terutama bagi keluarga berada, bangsawan dan hartawan di sebuah kampung. Tarian ini biasa dilihat di kawasan Seremban, Kuala Pilah dan Rembau oleh kumpulan tertentu. Ada yang dipersembahkan dengan pakaian lengkap dan pakaian tarian tidak lengkap. Sedikit bayaran akan dikenakan jika menjemput kumpulan tarian ini mempersembahkan tarian piring. 10 - 20 menit diperuntukkan untuk persembahan tarian ini.


 
Tarian piring dan silat dipersembahkan di hadapan mempelai di luar rumah. Majelis perkawinan atau sesuatu apa-apa majlis akan lebih meriah jika diadakan tarian piring. Namun begitu, segelintir masyarakat tidak dapat menerima kehadiran kumpulan tarian kerana dianggap ada percampuran lelaki dan perempuan. Bagi mengatasi masalah itu, kumpulan tarian disertai hanya gadis-gadis sahaja.
Kira-kira 8 (delapan) abad yang lalu, Tari Piring telah ada di wilayah kehulauan Melayu. Tari Piring identik dengan Sumatera Barat. Hingga masa kerajaan Sri Vilaya, eksistensinya masih ada bahkan semakin mentradisi. Pada saat masa-masa kejayaan kerajaan Majapahitlah, tepatnya abad ke-16, kerajaan Sri Vijaya dipaksa jatuh.
Namun demikian, Tari Piring tidak lantas ikut lenyap. Bahkan, Tari Piring mengalami perkembangan ke wilayah-wilayah Melayu lain seiring hengkangnya pengagum setia Sri Vijaya. Bergantinya pelaku peradaban memaksa adanya perubahan konsep, orientasi dan nilai pada Tari Piring.
Pada awalnya Tari Piring diperuntukkan buat sesembahan para dewa, dibarengi dengan penyediaan sesaji dalam bentuk makanan yang lezat-lezat. Tarian ini dibawakan oleh beberapa perempuan yang dengan penampilan khusus, berbusana indah, sopan, tertib, dan lemah lembut.
Dalam perjalanannya, orientasi atau tujuan sesembahan Tari Piring bergeser drastis. Ketika Islam datang, orientasi penyajian tidak lagi tertuju pada para dewa, namun dipersembahkan kepada para raja dan pejabat, khususnya saat ada pertemuan atau forum khusus dan istimewa lainnya. Selain itu, Tari Piring juga semakin populer dan tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan elit tertentu.
Tidak cukup sampai disitu, perubahan orientasi terus dilakukan. Arti dan makna Tari Piring diartikan secara agak luas. Dalam konteks ini, raja tidak harus kepala negara atau pemimpin kekusaan politik pada rakyatnya, tapi bisa dianalogikan dengan sepasang pengantin. Sang pengantin adalah raja, yaitu “raja sehari”. Karena itulah tradisi Tari Piring kerap dipersembahkan dihadapan “raja sehari” (pengantin) saat bersanding dipelaminan dalam acara walimatul ‘arsy. 

Tari Piring atau dalam bahasa Minangkabau disebut dengan Tari Piriang, adalah salah satu jenis Seni Tari yang berasal dari Sumatra Barat yaitu masyarakat Minangkabau disebut dengan Tari Piring karena para penari saat menari membawa piring.
Pada awalnya dulu kala Tari Piring diciptakan untuk memberi persembahan kepada para dewa ketika memasuki masa panen, tapi setelah datangnya agama islam di Minangkabau Tari Piring tidak lagi untuk persembahan para dewa tapi ditujukan bagi majlis-majlis keramaian yang dihadiri oleh para raja atau para pembesar negeri, Tari Piring juga dipakai dalam acara keramaian lain misalnya seperti pada acara pesta perkawinan.
Mengenai waktu kemunculan pertama kali Tari Piring ini belum diketahui pasti, tapi dipercaya bahwa Tari Piring telah ada di kepulaian melayu sejak lebih dari 800 tahun yang lalu. Tari Piring juga dipercaya telah ada di Sumatra barat dan berkembang hingga pada zaman Sri Wijaya. Setelah kemunculan Majapahit pada abad ke 16 yang menjatuhkan Sri Wijaya, telah mendorong Tari Piring berkembang ke negeri-negeri melayu yang lain bersamaan dengan pelarian orang-orang sri wijaya saat itu.

Masyarakat Minangkabau maupun Mandailing




Masyarakat Minangkabau maupun Mandailing sama-sama memiliki “misi budaya” yaitu sebagai seperangkat tujuan yang diharapkan dicapai oleh anggota–anggota suatu masyarakat tertentu yang didasarkan pada nilai-nilai dominan dari pandangan dunia masyarakat tersebut. Disini akan membahas tentang “misi budaya” kelompok etnik Minangkabau dan Mandailing serta pengaruh-pengaruhnya pada praktik–praktik rantau, adaptasi, dan hubungan–hubungan mereka dengan daerah asal. Baik orang Minangkabau maupun Mandailing mendorong masyarakat mereka untuk merantau dalam rangka menjalankan misi budaya ini. Hubungan antar budaya migran dan adaptasi terhadap budaya tuan rumah yang dominan itu dipengaruhi oleh “misi budaya “ yang dominan itu sendiri. Misi budaya dapat mempengaruhi pemilihan pekerjaan dan tempat-tempat pemukiman, karakter dan setiap asosiasi (organisasi paguyuban) yang didirikan oleh para perantau, dan hubungan-hubungan sosial masyarakat perantau dalam konteks kota, termasuk hubungan-hubungan dengan masyarakat-masyarakat tuan rumah. Kita harus melihat interaksi antara “misi budaya” dan latar budaya daerah rantau, karena hal ini mempengaruhi strategi-strategi adaptasi tersebut. Sahlins (1976:22), menyatakan bahwa : ...perubahan dimulai dari budaya, bukannya budaya dimulai dari perubahan ...”;para perantau membuat situasi-situasi baru menjadi bermakna dalam rangka misi-misi budaya mereka.
Bunner mencatat cara-cara bagaimana orang Batak Toba belajar memodifikasi segi-segi budaya tertentu mereka supaya lebih mudah menyesuaikan diri dengan suatu budaya dominan yang berbeda. Malahan dalam persainagn antara kelompok-kelompok dipandang perlu untuk menyamarkan atau menyembunyikan identitas etnik. Studi ini mencoba menghubungkan pengaruh-pengaruh identitas etnik, misi budaya, kehidupan keluarga, dan asosiasi-asosiasi sukarela terhadap strategi-strategi adaptasi dan mrmaduka hal ini dalam suatu perspektif historis mengenai perubahan regional dan nasional. Negeri Minangkabau dan Mandailing adalah tetangga, tapi mereka sangat berbeda. Kelompok Etnik Minangkabau sebagian besar adalah pemeluk agama Islam modernis yang memiliki suatu tradisi matrilineal yan kuat terutama dalam hal suksesi, pewarisan, identitas, legitimasi, dan cenderung untuk merantau. Sedangkan kelompok etnik Mandailing sebagian besar dikenal sebagai muslim konservatif yang memiliki suatu tradisi patrilineal yang kuat dalam hal suksesi, pewarisan, identitas, dan legitimasi.

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN TEORITIS
ADAPTASI PERANTAU
Migrasi bukan perilaku acak, sebab itu orang-orang yang memutuskan untuk bermigrasi dapat dianggap sebagai orang-orang pilihan diantara populasi (Guillet dan Uzzel). Menurut Whiteford, dewasa ini hipotesis push-pull dianggap terlalu simplistik, karena menganggap semua kekuatan sebagai kekuatan ekstenal dan tidak memperhitungkan adanya kelompok pribadi. Menurut Butterworth, kemiskinan dipedesaan merupakan faktor yang mendorong penduduk meninggalkan tanahnya, gerakan keluar (merantau) itu sifatnya sangat selektif dan kemiskinan itu sendiri tidak merupakan alasan yang cukup untuk bermigrasi.
Keadaan-keadaan biografi personal mungkin merupakan faktor-faktor selektif yang menentukan individu-individu mana yang cenderung bermigrasi. Supaya bisa memperoleh perspektif yang lebih luas maka selain faktor-faktor selektif tersebut diatas, kita harus pula mempertimbangkan faktor-faktor kultural yang menggerakkan migrasi kekota.
Kato menemukan bahwa ketika gerakan merantau semakin populer, maka para perantau yang kembali biasanya membawa kekayaan, kekuasaan, serta prestise baru, selain gagasan-gagasan dan praktik-praktik baru dari dunia luar kedesa asal mereka. Pola merantau ini dikalangan suku Minang populer disebut sebagai “rantau Cina” biasanya mencapai jarak jauh dan menuju kekota-kota besar seperti Medan, Jakarta, dan Bandung. Kaum perantau Minangkabau ini cenderung tinggal lebih lama dan untuk mendapatkan kehidupan lebih mapan. Mereka kembali menjenguk desanya sekali atau dua kali setahun sebagai saat untuk memamerkan kekayaan, pengetahuan dan prestise.
Orang Minangkabau mendorong kaum muda mereka untuk merantau, kalau tidak maka mereka tidak akan diterima oleh sesama orang kampung, mereka dianggap telah gagal menjalankan misi mereka. Penduduk kampung akan menyebut mereka bagaikan “seekor siput pulang dari rumahnya” (pulang langkitang) atau menyebut mereka “begitu perginya, begitu pulangnya (baitu pai, baitu pulang). Tidak ada muka manis bagi perantau yang gagal. Mereka harus kembali kedaerah rantau dan berusaha lagi atau “larut di rantau dan tidak usah pulang”(laruit di rantau urang).Inilah salah satu penyebab dari rantau Cino (migrasi permanen) oleh sebagioan suku Minangkabau.
Harta dan pengetahuan yang dibawa ke kampung halaman oleh para perantau yang sukses sangat dihargai oleh penduduk kampung. Harta itu digunakan untuk membangun atau memperbaiki rumah-rumah para saudara perempuan atau isteri-isteri mereka atau guna membelikan mereka tanah. Mereka juga mengajarkan pengetahuan dan pikiran-pikiran baru untuk mengubah dan memajukan negeri dan adat matrilineal mereka. Bahkan memperkenalkannya pengetahuan-pengetahuan baru telah membawa perubahan-perubahan ini dibawa kembali kedaerah rantau sebagai pedoman bagi para perantau Minang disana. Karena itu orang Minang tidak hanya membawa misi budaya mereka kedaerah rantau tetapi juga membawa perubahan-perubahan dan rumus-rumusan baru dalam adat mereka.
Orang Mandailing bermigrasi dengan motto: ”carilah anak, carilah tanah” (halului anak, halului tano). Menurut Kramer: kompleks “harga diri” ini menggerakkan suku Batak merantau untuk mendirikan kerajaan-kerajaan baru. Kemudian kompleks “harga diri” ini juga ditafsirkan sebagai keinginan untuk menjadi “nomor satu”. Misi perantau Mandailing adalah meluaskan wilayah mereka,berbeda dengan suku Minangkabau, mereka tidak harus membawa pulang harta dan pengetahuan mereka kekampung halamannya. Lagi pula, kampung halaman hanyalah suatu tempat training untuk migrasi, tempat untuk mempersiapkan anak-anak muda merantau berbekal harta dan pendidikan. Suku Minangkabau maupun Mandailing keduanya memakai keluarga dan famili mereka sebagai penghubung-penghubung di kala merantau. Suku Minangkabau tidaj pernah memberikan modal kepada anak-anak mereka, karena semua harta dikampung menjadi milik kerabat matrilineal. Berbeda dengan suku Mandailing, anak-anak muda Mandailing memiliki hak pemilikan dan dapat menjualnya bila perlu. Orang Mandailing di kampung halamannya memberikan perlakuan yang baik kepada perantau yang berhasil maupun yang gagal. Para perantau yang berhasil sebagian hartanya dipergunakan untuk meperbaiki makam leluhur. Perantau yang gagal cukup mengunjungi orang tua dan makam leluhur untuk berdoa demi keberhasilan mendatang didaerah rantau.

STRATEGI ADAPTASI PERANTAUAN DAN BUDAYA TUAN RUMAH
Studi ini ialah menjelaskan perubahan dan kebertahanan para perantau dalam usaha mereka mempertahankan misi budaya dan identitas etnik dalam latar budaya tuan rumah yang sedang mengalami perubahan. DeVos sependapat dengan Barth yang mengemukakan perbatasan-perbatasan kelompok etnik sebagai segi-segi penegas yang penting bukannya hal-hal budaya didalam perbatasan-perbatasan tersebut. Barth menyatakan bahwa kita tidak bisa mengenali sesuatu kelompok etnik hanya dari budayanya saja. Kita harus memperhatikan perilaku mereka, terutama perilaku “mempertahankan perbatasan” tersebut.
Young menjelaskan bahwa proses integrasi, disintegrasi, dan kristalisasi identitas etnik itu merupakan proses yang dinamik. Young tidak memperhitungkan “misi budaya” ketika mencoba menjelaskan hubungan-hubungan antara para perantau dengan tuan rumah dalam latar perkotaan. Studi ini meneliti hubungan-hubungan tersebut dan pengaruh-pengaruhnya terhadap integrasi, disintegrasi, dan kristalisasi identitas etnik. Terdapat dua macam kekuatan terus-menerus mempengaruhi keutuhan kelompok etnik di daerah rantau kota. Ynag pertama, orang-orang dikampung halaman mengharapkan para perantau menjalankan misi budaya dan mempertahankan identitas etnik mereka, dan kedua, para perantau harus menyesuaikan diri dengan latar budaya tuan rumah. Para perantu harus mengendalikan hubungan-hubungan dinamik antara kebertahanan dan perubahan yang mempengaruhi bagaimana mereka beradaptasi.
Kelompok etnik Minangkabau, akibat dari migrasi siklus mereka, tidak selalu tinggal menetap didaerah rantau tertentu, sehingga tidak merasa perlu membangun hubungan yang lestari dengan tuan rumah mereka. Namun orang Mandiling memerlukan hubungan yang dekat dengan orang Melayu karena mereka memerlukan tanah dan rumah tetap untuk menegakkan kerajaan (harajoan) mereka.

MEKANISME-MEKANISME ADAPTIF DAN IDENTITAS ETNIK
Orang Minangkabau yang dibesarkan dalam masyarakat egalitarian yang relatif demokratis, tetapi sangat menghargai kebebasan individual mereka. Sebaliknya, orang Mandailing dibesarkan dalam suatu aristokrasi turun temurun dalam adt dan kepenghuluan (kuria) lebih berkuasa atas diri mereka. Orang Minangkabau menyukai perdagangan, kerajinan, dan pekerjaan-pekerjaan profesional, sementara suku Mandailing menyukai dinas sipil (pegawai), militer, atau polisi, pekerjaan-pekerjaan manual dan bertani. Pemukiman-pemukiman Minangkabau cenderung berkonsentrasi sekitar pusat-pusat pasar, Sementara pemukiman-pemukiman Mandailing cenderung berada dalam daerah pinggiran yang nyaman.
Para perantau juga telah mendirikan asosiasi-asosiasi etnik dan kedaerahan dikota, seiring dengan memakai nama desa di kampung halaman masing-masing. Menurut Butterworth, banyak dari asosiasi-asosiasi ini, sebagai tujuan utamanya, memperbaiki keadaan-keadaan dikampung mereka atau bertindak sebagai penyangga (buffer) antara para perantau baru yang masih kebingungan dengan lingkungan kota yang tidak bersahabat. Namun dalam kasus-kasus yang kami teliti, peran yang paling penting dari asosiasi-asosiasi kedaerahan ini adalah memberikan suatu forum untuk aspek-aspek sekular dari identitas etnik, misalnya seni, musik, dan tari, yang dipandang tidak sesuai untuk asosiasi religius. Asosiasi-asosiasi ini melengkapi peran asosiasi religius dalam mempertahankan identitas etnik. Asosiasi-asosiasi tersebut memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan moral kepada para anggotanya dalam masalah-masalah keluarga selain dalam perdagangan dan bisnis. Dan juga asosiasi religius membuat pengorganisasian, keuangan, dan administrasi para perantau lebih mudah karena para anggota terikat pada satu tempat ibadah tertentu.
Dikampung halaman, asosiasi-asosiasi sukarela itu merupakan sarana-sarana untuk membentuk identitas dan didaerah rantau merupakan sarana-sarana untuk menyamarkan kepentingan-kepentingan etnik. Dalam hal yang pertama, asosiasi sukarela berhadapan dengan tradisi-tradisi lokal dan tradisi-tradisi perantauan, sementara dalam hal yang kedua asosiasi-asosiasi sukarela terutama berkaitan dengan strategi-strategi adaptasi. Kaarena itulah kenapa para perantau beradaptasi kekonteks budaya mereka, dan reaksi-reaksi mereka terhadap keputusan-keputusan mengenai dan proses adaptasi.

DAERAH ASAL DAN MISI DALAM PERANTAUAN
PERAN SURAU DAN LEPAU DALAM MASYARAKAT-MASYARAKAT MINANGKABAU
Surau-surau dan warung-warung nasi (lepau) dalam pembentukan asosiasi-asosiasi sukarela sebelum berdirinya Muhammadiyah yang kemudian menyerap sebagian besar asosiasi-asosiasi lokal. Berdirinya Muhammadiyah sangat erat kaitannya dengan masalah identitas Minangkabau yang muncul akibat perubahan-perubahan nyata dalam bidang politis dan sosial di Sumatra Barat dari 1900 sampai 1930. Surau-surau dan warung-warung nasi merupakan arena untuk pendewasaan serta periode turun tanah anak-anak muda yaitu transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Menurut Naim, anak laki-laki antara usia 7 sampai 10 tahun didorong keluar dari rumah ibunya untuk berdiam di surau-surau. Mereka tidur dan bermain disekitar surau, atau tidur bersama teman-teman mereka di lepau-lepau. Ketika mereka mencapai usia 11 sanpai 12 tahun, mereka menjadi pengunjung tetap lapau-lapau tersebut. Dalam surau diajarkan membaca Al-Quran; belakangan didirikan lembaga-lembaga pendidikan disekitar surau. Mereka kembali kerumah hanya waktu makan dan memcuci pakaian untuk kemudian kembali lagi kesurau atau lepau.
Biasanya, terdapat beberapa warung nasi dan surau di kampung, sebab itu mereka dapat berpindah-pindah tempat berkumpul, tergantung keadaan atau anjuran dari mamak (paman dari garis ibu) mereka.Mamak ini mengawasi perilaku dan kemajuan mereka di surau. Surau adalah pusat-pusat pendidikan agama dalam pengertian yang luas, termasuk masalah-masalah yang menyangkut kemashlahatan masyarakat luas. Surau dapat dipandang sebagai lambang kesucian (sacral), sopan santun, serta kepatuhan terhadap Allah. Warung-warung nasi adalah lembaga-lembaga bisnis (profane), melambangkan keduniawian, kekasaran dan keberanian. Disurau orang harus menjaga tingkah lakunya, dan berbicara sopan, tetapi di lepau mereka bisa berbuat semaunya.
Tidak ada surau tanpa lepau didekatnya, baik di Minangkabau atau didaerah rantau, misalnya di Medan. Lembaga ini membantu menyelaraskan kehidupan di Minangkabau. Di lepau orang-orang ngobrol, menceritakan berbagai kabar angin (humor), hal-hal yang agak porno serta membahas masalah polotik. Di surau, anak-anak muda belajar berpidato dengan cara yang teratur, tetapi di lepau mereka belajar berdebat dan mengumbar petatah-petitih. Karena itu lepau di Minangkabau sering disebut sebagai “parlemen swasta”. Di sekitar lepau, dilakukan kegiatan-kegiatan sekuler misalnya pencak silat, perayaan-perayaan kampung, dsb.
Jika laki-laki hanya diam di lepau sepanjang hari tanpa mengunjungi surau untuk mendengarkan petuah-petuah agama, maka orang-orang kampung menamai mereka parewa (perusuh). Jika mereka hanya berdiam disurau, mereka dinamai pakih (orang yang taat pada agama). Baik parewa maupun pakih dianggap sebagai orang-orang yang tidak sempurna. Tidak ada orang yang mau mengambil mereka jadi menantu. Seorang mamak biasanya akan membujuk kemenakannya yang parewa atau pakih untuk pergi merantau.
Karena kehidupan laki-laki Minangkabau itu kebanyakan dihabiskan diluar rumah, mereka menjadi peka terhadap masalah-masalah komunitasnya. Gaya hidup mereka itu menciptakan suatu komunitas yang dinamik.
Banyak desa-desa di Sumatra barat yang memiliki suatu asosiasi sukarela, misalnya Sendi Aman Sungai Batang di danau Maninjau. Asosiasi tersebut mengorganisir kegiatan-kegiatan sosial dan agama untuk penduduk desa. Gagasan ini berasal dari sejumlah haji yang pulang dari Mekkah atau Mesir. Ketika sebuah desa mendirikan suatu asosiasi sukarela, gagasan itu cepat menyebar keseluruh daerah tersebut. Para ulama yang memberikan fatwa di surau, datang dari berbagai desa. Dalam perjalanan mereka dari surau ke surau, mereka menyebarkan gagasan baru tersebut dan membawa berita hilir mudik. Para hadirin yang mendengar khutbah mereka, mulai menerima dan mencernakan gagasan baru tersebut dan menyebarkannya dari surau ke lepau. Dengan cara ini, masalah-masalah sekular serta religius di bahas dan diselesaikan. Masalah-masalah sekuler berkisar dari kesejahteraan desa dan kesehatan sampai masalah-masalah perdagangan dan ekonomik.

KEBANGKITAN MUHAMMADIYAH DAN BENTUK IDENTITAS
Konflik antara Islam dan adat belum diselesaikan selama perang Padri juga masih belum selesai setelah pendudukan Belanda atas Sumatra barat dalam 1820. Salah satu masalah serius yang diajukan oleh ulama di surau adalah masalah legalitas hukum waris matrilineal yang menetapkan bahwa para waris bukanlah anak-anak dari ayah melainkan anak-anak dari saudara perempuan ayah. Konflik ini menyebabkan perang saudara antara pemuka adat dan para ekstremis Islam. Yang disebut terakhir dipengaruhi oleh gerakan Wahabi di Arab Saudi dan menolak gagasan adanya kompromi apapun antara adat dengan Islam. Dalam tahun 1821, para pemuka adat meminta pemerintah Belanda menengahi masalah-masalah intern mereka itu. Ini berakibat jauh terhadap kekuasaan Belanda atas alam Minangkabau.
Perkembangan-perkembangan pada permulaan abad ke dua puluh ini membawa banyak perubahan di Sumbar, terutama pada pertanian paspasan (subsistensi). Makin pentingnya perdagangan menyebabkan makin banyak orang yang menambah penghasilan dari pertanian dengan penghasilan dari berdagang sambilan. Dobbin menyatakan bahwa orang Minangkabau telah berhubungan dengan lalu lintas perdagangan di Lautan Hindia beberapa abad sebelum orang-orang Eropa datang di Indonesia untuk membeli emas Minangkabau. Di lembah perbukitan emas ditambang dan sawah ditanami padi sehingga berkembanglah suatu peradaban Hindu yang mencoba menguasai perdagangan emas dari tanah tinggi ke pantai-pantai. Selanjutnya Minangkabau terlibat dalam perdagangan internasional setelah datangnya orang-orang Eropa pada pertengahan abad kedelapan belas.
Walau Islam dan hukum adat sejak lama telah dianggap sebagai dua tiang sendi identitas Minangkabau tidak bisa dipisahkan, namun arti penting relatifnya terhadap satu sama lain berfluktuasi. Sebelum Islam disebarkan ke Sumbar, sebuah pepatah lama meengatakan : “Adat bersendi alur dan patut”. Setelah masuknya Islam, pepatah ini berubah : “Adat bersendi sarak (Islam);sarak bersendi adat. Disinilah mulai timbulnya tiang sendi lain identitas Minangkabau.
Keberanian dan perjuangan kaum reformis memaksa Belanda menangkap dan membuang Haji Rasul. Belanda mengemukakan alasan membuang Haji Rasul sebagai tuntutan dari penghulu adat dan ulama kolot. Kedua kelompok ini tidak mengakui hal itu, bahkan kemudian bersatu dengan kaum reformis menentang tindakan berkonflik lama antara adat dan syarak (Islam) dilembagakan dalam Muhammadiyah. Gerakan reformis mencoba mempertahankan identitas masyarakat Minangkabau sebagai orang-orang yang independen, dinamik dan peka terhadap masalah-masalah kemasyarakatan. Dalam hal ini Muhammadiyah sebagai organisasi pembaru, menjadi alat misi Minangkabau untuk menyebarkan gagasan pembaharuan kesemua orang Islam, terutama pada komunitas mereka serta anak cucu diperantauan

K.H. AHMAD DAHLAN DAN HAJI RASUL: PENDIRI DAN PENGIKUT
K.H. Ahmad Dahlan, seorang Jawa, putra K.H. Abu Bakar, adalah khatib mesjid sultan di Yogyakarta. Beliau mendirikan gerakan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Sebelum beliau mendirikan organisasi itu, beliau mewarisi jabatan ayahnya sebagai khatib kesultanan dan mengajar agam di beberapa sekolah umum di Yogyakarta. Ahmad Dahlan menunaikan hajinya ke Mekah dan bermukim disana selama beberapa tahun. Sementara berada disana, dia mempelajari hukum Islam dengan Haji Ahmad khatib, seorang ulama terkenal dari Minangkabau yang telah mendidik beberapa ulama di Sumatra.
Dahlan mengikuti ajaran-ajaran filsafat mistis Jawa dan nilai-nilai Jawa pada umumnya, sementara menekankan pentingnya rasa hormat yaitu menghormati orang yang berderajat tnggi (hirarkis) serta mengikuti adat berbicara dengan bahasa Jawa yang berlapis-lapis. Dahlan juga seorang Reformis, tetap menjabat sebagai khatib keraton, sangat konservatif sampai dia meninggal.
K.H. Dahlan maupun Haji Rasul, keduanya adalah pemimpin reformis dan belajar dengan guru yang sama, namun mereka dibesarkan dalam budaya yang sangat berbeda. Dahlan tumbuh dalam budaya Jawa yang paternalistik, sinkretik, dan tradisional, sedangkan Rasul dalam budaya Minangkabau yang egalitarian, rasional, dan dinamik. Di Jawa Dahlan, berusaha menjaga Muhammadiyah dipinggiran percaturan politik nasionalis, mencoba bekerja sama dengan pemerintah Belanda, dan memasukkan pelajaran-pelajaran agama dan umum di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

SUKU MANDAILING PADA AKHIR ABAD KEDUA PULUH
Selama tahun 1820-1836, pasukan padri dari Minangkabau, dibawah komando hulubalang Tuanku Rao, menyerang, dan kemudian memerintah Mandailing. Pada waktu itu belum semua kuria (kepala desa), yang memegang hukum adat, memasuki agama Islam. Gerakan Padri mengubah kehidupan sosial dan politis di Mandailing dari kekafiran menjadi reformisme Islam yang dibawah oleh hulubalang-hulubalang Padri yaitu Islam Wahabi. Kuria cemderung dijadikan jabatan yang turun temurun dan kelas-kelas sosial yang berbeda. Kuria memperoleh akses yang lebih besar ke dunia ekonomik dan polotis yang lebih luas dan lebih banyak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kekuasaan dan kekayaan melalui persekutuan dengan Minangkabau.
Menurut Keuning, kehadiran guru-guru Minangkabau di berbagai sekolah Mandailing merupakan kunci guna memahami kenapa, dalam waktu kurang dari dua dasawarsasetelah perang Padri, Mandailing memeluk agama Islam. Di bawah pengaruh guru-guru Minangkabau, telah terperangkap kedalam situasi Minangkabau, terutama dalam kehidupan beragama mereka. Dalam hal ini, masyarakat Mandailing mungkin menganggap situasi Minangkabau bukan sebagai perangkap, tetapi sebagai jalan untuk menegasskan identitas mereka sebagai Muslim, supaya bisa terpisah sepenuhnya dari Batak Toba yang Kristen atau yang masih animisme di utara.

MANDAILING DAN BATAK TOBA : MENARIK GARIS BATAS
Keuning menyatakan, penampilan orang Mandailing dan Batak Toba sehari-hari juga berbeda. Menurut mereka, orang Batak kasar dan tidak mengenal sopan santun. Di Tapanuli Utara, kita bisa mendapati desa-desa kecil dan terpencil dimana babi berkeliaran didalam rumah. Orang Batak Toba tampak sukar diatur. Walau mereka tidak dapat dikatakan kotor, mereka tidak memperhatikan kebersihan badan. Orang Mandailing sebaliknya, tampak necis, sopan dan berdisiplin. Desa-desa Mandailing lebih bersih debanding desa Batak. Mereka memelihara kambing bukan babi. Orang Mandailing memperhatikan kebersihan lingkungan, rumah-rumah, dan masjid-masjid bersih dan terpelihara.

“KERAJAAN PRIBADI” (SAHALA HARAJOAN) DAN MIGRASI
Konflik di dalam kantor etnik Batak harus berada dalam konteks gagasan kulturalmereka mengenai sahala hasangopon. Sahala adalah sifat tondi (semangat sebagai esensi manusia), yaituwatak alami selain kekuatan dan wewenang manusiawi. Hasangopon berarti sesuatu kualitas yang dihormati sebagai akibat dari dimilikinya sahala. Maka sahala hasangopon adalah kualitas kehormatan diri yang juga berarti bahwa seseorang itu patut dihargai olehorang lain. Namun sahala hasangopon itu baru menjadi kenyataan apabila seseorang telah memperlihatkan prestasinya. Kompleks sahala hasangopon juga mendorong susku Batak untuk berpindah dan mendirikan kerajaan-kerajaan baru.
Bahwa kompleks sahala hasangopon itu sendiri dapat menyebabkan komunitas Batak (Toba, Mandailing, Sipirok,dll) menjadi terpecah. Kompleks sahala hasangopon dikalangan sub-etnik Batak bisa dianggap sebagai faktor utama yang menjelaskan kenapa mereka masuk agama ini. Masuk Islam maupun Kristen rupanya membantu perdagangan dengan orang-orang yang telah berbudaya, misalnya suku Minangkabau, Melayu, dan Belanda, menganggap animisme itu terbelakang. Beragama juga memberikan lebih banyak prestise berhadapan dengan kelompok-kelompok etnik lain. Konsep animis mistis mengenai sahala hasangopon diubah menjadi sahala hasangopon Islam atau Kristen, yang memperkuat dorongan-dorongan dari kompleks ini. Demikianlah maka terdapat alasan ideologis maupun ekonomik yang mendesak untuk memeluk agama dan merantau.
Persaingan antara Mandailing, Minangkabau, dan Batak Toba dipertajam dengan mengembangkan pendidikan yang memberi mereka akses kepada pekerjaan-pekerjaan baru dalam perantauan. Minat yang meningkat terhadap pendidikan umum itu juga memperoleh dorongan dari aspek penting lainnya dari dunia kolonial yang mulai berubah dalam tahun 1870-an itu, yaitu dianutnya polotik etis oleh pemerintah kolonial Belanda. Kebijakan ini menganjurkan pemerataan pendidikan bukan saja untuk mengisi jabatan-jabatan birokratik tertentu, tetapi sebagai bagian dari suatu program perbaikan yang lebih luas termasuk perbaikan standar kehidupan penduduk asli Indonesia.



MISTERI SUKU DAYAK




Kata Dayak berasal dari kata "Daya" yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat.

Ada pelbagai pendapat tentang asal-usul orang Dayak, tetapi setakat ini belum ada yang betul-betul memuaskan। Namun, pendapat yang diterima umum menyatakan bahawa orang Dayak ialah salah satu kelompok asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan (Tjilik Riwut 1993: 231)। Gagasan tentang penduduk asli ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan। Bertolak dari pendapat itu adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Dayak berasal dari China Selatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mikhail Coomans (1987: 3):

Semua suku bangsa Daya termasuk pada kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan daripada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah kelompok kecil mengembara melalui Indo China ke jazirah Malaysia yang menjadi loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia, selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit, kerana pada zaman glazial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyeberangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu.

Orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati, dahulu mereka ini mendiami pulau Kalimantan, baikpun pantai-pantai baikpun sebelah ke darat। Akan tetapi tatkala orang Melayu dari Sumatera dan Tanah Semenanjung Melaka datang ke situ terdesaklah orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama, bertambah jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan

Teori tentang migrasi ini sekaligus boleh menjawab persoalan: mengapa suku bangsa Dayak kini mempunyai begitu banyak sifat yang berbeza, sama ada dalam bahasa maupun dalam ciri-ciri budaya mereka

Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, iaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan। Keenam rumpun ini terbagi lagi kepada lebih kurang 405 sub suku. Meskipun terbagi kepada ratusan sub suku, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas। Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu salah suatu sub suku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak। Ciri-ciri tersebut ialah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit beliong (kapak Dayak) pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem perladangan) dan seni tari.

blog-apa-aja.blogspot.com

Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya pulau ini tidak hanya merupakan "daerah asal" orang Dayak semata karena di sana ada orang Banjar (Kalimantan Selatan) dan orang Melayu. Dan, di kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau. Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol seseorang (kehormatan dan jatidiri). Sebagai catatan, dahulu mandau dianggap memiliki unsur magis dan hanya digunakan dalam acara ritual tertentu seperti: perang, pengayauan, perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan upacara. Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian. Kekuatan saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala lawan). Ketika itu (sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya sebagian digunakan untuk menghias gagangnya. Mereka percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau, maka rohnya akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti. Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan bertani.

Bagian Mandau

1. Bilah Mandau 
Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing (menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar). Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Ada beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu. Pembuatan bilah mandau diawali dengan membuat bara api di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi. Kayu yang digunakan untuk membuat bara api adalah kayu ulin. Jenis kayu ini dipilih karena dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Setelah kayu menjadi bara, maka besi yang akan dijadikan bilah mandau ditaruh diatasnya agar memuai. Kemudian, ditempa dengan menggunakan palu. Penempaan dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk bilah mandau yang diinginkan. Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau. Konon, pada zaman dahulu banyaknya lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya korban yang pernah kena tebas mandau tersebut. Cara membuat hiasan sama dengan cara membuat bilah mandau, yaitu memuaikan dan menempanya dengan palu berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. Setelah itu, barulah bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gerinda. 

2. Gagang (Hulu Mandau)
Gagang (hulu mandau) terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.

3. Sarung Mandau. 
Sarung mandau (kumpang) biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan. Nilai Budaya Pembuatan mandau, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.

blog-apa-aja.blogspot.com

Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah "Menteng Ueh Mamut", yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.

ASAL MULA

Pada tahun (1977-1978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan "Muller-Schwaner". Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.

Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.

Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut "Nansarunai Usak Jawa", yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).

Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Maanyan atau Ot Danum)

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.

Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)

Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

Upacara Tiwah
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

Dunia Supranatural
Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.

Mangkok merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. Panglima" atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber Tariu" ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.

Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.

Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.

Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan Palangka Bulau" ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan Ancak atau Kalangkang" ).


http://terbeselung.blogspot.com/2012/02/inilah-sejarah-dan-asal-usul-suku-dayak.html